Hello Spring!

I love spring anywhere, but if I could choose I would always greet it in a garden - Ruth Stout

I love spring anywhere, but if I could choose I would always greet it in a garden - Ruth Stout
Hidden gems of Europe -
Looking beyond Rome, Paris or London? Consider Europe’s lesser-known destinations, such as Monschau, Germany, a town so quaint you can hardly believe it isn’t a theme park or San Marino, one of Europe’s oldest and smallest countries (drive through it slowly).
"“Every time I’ve flown into Heathrow in the past year, I’ve made sure to keep copies of my itinerary and the hotels I’d be staying at on hand because I’m not keen on repeating my six-hour detainment in 2009.
I’d only had the street address and e-mail of the people I was staying with; I didn’t…
(Source: matadornetwork.com)
London is cold and grey. Begitu kata teman saya saat ditanya tentang cuaca di kota yang bakal jadi tuan rumah Olimpiade 2012 itu. Januari mungkin bulan yang kurang ramah bagi Londoners. Hujan salju turun semaunya, jalanan licin dan tulang ngilu disengat dingin.
Atmosfer muram mungkin berhembus sepanjang bulan, tapi ada satu hal yang bikin saya kangen London di Januari, winter sales. Program diskon ritel ini dimulai sehari setelah Natal dan berlangsung selama kurang lebih sebulan. Hari pertama acara, saya pergi ke seputaran Regent street dan nggak nyangka kalau suasananya riuh rendah seperti antri sedekah. Info di internet memang mengabarkan kalau suasana hari pertama musim diskon biasanya heboh. Tapi yang dipajang di web kan cuma foto orang antri di luar, bukan suasana di dalam toko. Pakaian berserakan dimana-mana,tak lagi berada di tempatnya asli. Kaos ditemukan di tumpukan celana, jeans pindah ke bagian kemeja bersama rok. Mau cari ukuran yang sesuai harus keliling toko.
Setelah beberapa saat hop on hop off dari satu gerai satu ke lainnya, saya mulai terbiasa dengan irama kemeriahan seperti itu. Dan akhirnya punya trik untuk nyaman belanja di tengah gerusan hawa dingin dan sesaknya toko.
- Datang di pagi hari. Biasanya pakaian masih ada di tempatnya saat rolling door gerai baru dibuka. Memilih dan cari ukuran pakaian yang sesuai jadi lebih mudah
- Belanja di saat hari kerja. Antrian tidak terlalu padat merayap. Meski ada yang rela bolos kerja demi potongan harga, tapi gerai tak sepadat saat weekend.
- Pakai baju+sepatu nyaman. Musim dingin memang bikin ribet dengan pakaian yang berlapis-lapis. Tapi trik ini sukses untuk menghemat waktu di kamar pas.
- Sabar. Suasana toko saat musim diskon kadang mirip pasar kaget. Ngga ada kejelasan pasti di mana bagian celana atau kemeja, alternatif ukuran baju yang dicari. Tanya staff? Mereka kadang ada, lebih sering beredar seperti bermain ice skating.
- Bawa daftar belanja. Ini penting karena suasana toko yang riuh kadang bikin pikiran ruwet dan lupa apa yang ingin dibeli.
- Check kualitas barang & baca exchange policy sebelum membeli. Beberapa toko punya kebijakan barang yang dibeli tak bisa dikembalikan. Daripada sia-sia membeli barang, lebih baik menyediakan sedikit waktu untuk meneliti barang yang akan dibeli.
- Biasanya mendekati akhir program winter sales, ada penambahan diskon, dari 50% jadi 70%, atau special price.Suasana gerai juga lebih lengang. Pilihan mungkin terbatas, tapi keberuntungan bisa datang kapan saja.
Meski langit gelap dan jalanan dipenuhi nuansa gelap mantel tebal, tapi satu hari di akhir Januari itu saya pulang dengan senyum lebar karena bisa belanja celana Mango dibawah 5 pounds dan 1 kaos Monsoon tak lebih dari 10 pounds!:)

Every leaf speaks bliss to me, fluttering from the autumn tree - Emily Bronte


Mengunjungi kediaman mantan taipan Medan, Tjong A Fie, seperti bersentuhan dengan 3 budaya sekaligus; Eropa, Melayu, Oriental. Memasuki gerbang bangunan yang terletak di daerah Kesawan ini, saya disambut fasad megah dengan pilar yang kokoh menyangga plafon tinggi khas rumah kolonial. Tulisan kaligrafi Cina terpampang di sekitar pintu depan. Sementara di kanan kirinya terdapat jendela khas Melayu dengan warna kuning. Seorang guide kemudian menemani saya dan dua orang pengunjung lainnya berkeliling. Sembari berjalan ia bercerita singkat riwayat sang pemilik beserta rumah yang kini masuk cagar budaya nasional.

Tjong A Fie datang ke Deli pada tahun 1880. Berkat kerja kerasnya, ia menjadi keturunan Tionghoa pertama yang mempunyai perkebunan tembakau. Ia kemudian membangun rumah yang disebut mansion itu pada tahun 1895. Bangunan yang berdiri di atas tanah 6000 m2 ini mempunyai sekitar 50 kamar. Meski telah menjadi konglomerat, pribadinya dikenal sangat dermawan oleh masyarakat sekitar. Ia membangun rumah ibadah bagi banyak golongan umat beragama di kotanya. Mungkin karena kepedulian sosial dan kebersahajaannya, ia lalu diangkat menjadi mayor Medan.
Sosok Tjong A Fie dan perjalanan hidupnya tercermin dalam ruang-ruang kediamannya. Ia tak pernah melupakan asal usulnya. Ini tercermin dari relief yang ada di kayu serta lukisan dinding bermotif Oriental. Pakaian yang ada di kamarnya pun bernuansa busana peranakan. Sementara sisi spiritualitasnya terwakili oleh ruang persembahan yang letaknya menghadap atrium bangunan.

Bisnisnya yang berkembang pesat membuat pergaulannya menjangkau banyak golongan, termasuk pebisnis Eropa. Ruang dansa yang terletak di lantai dua menjadi tempat Tjong A Fie menjamu rekannya sembari menikmati musik dan berdansa. Beberapa lampu kristal yang konon didatangkan khusus dari Eropa masih menempel kokoh di plafon dengan relief indah yang menghias ruang ini.

Dan dari jendela-jendela besar berwarna kuning hijau di ruang tersebut, taipan yang datang ke Deli pada usia 16 tahun ini mungkin dapat memandang lalu lalang masyarakat yang mengagumi pribadinya, hingga ia menutup mata pada usia 61 tahun.

Une librairie dans un théâtre. Magnifique. Dans 4-5 ans ça va venir en France : plus d’argent pour les théâtres. Ah, non, il n’y aura plus de libraires non-plus. Bon ben des Apple Stores alors/